Di kota Batu yang indah, terletak sebuah villa bunga yang sangat populer di kalangan wisatawan. Villa itu terkenal dengan keindahan taman bunganya yang menakjubkan. Dzikrul, seorang fotografer, dan Alisa, seorang penulis, memutuskan untuk menginap di villa itu untuk mencari inspirasi untuk pekerjaan mereka.
Malam pertama mereka di villa, semuanya terasa begitu damai. Mereka menikmati pemandangan bunga yang indah di taman sekitar villa dan merasa sangat senang.
Namun, semuanya berubah pada malam kedua. Saat Dzikrul dan Alisa sedang tidur nyenyak, mereka mendengar suara aneh dari luar jendela mereka. Suara gemuruh seperti langkah kaki yang tidak beraturan dan bisikan-bisikan yang tak terdengar jelas. Mereka berdua terbangun dengan kaget.
Dzikrul mencoba untuk tidak terlalu khawatir. "Mungkin hanya suara angin atau hewan liar di luar, Alisa," katanya mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Namun, suara itu semakin kuat dan terdengar semakin dekat. Mereka berdua keluar dari tempat tidur dan mencoba mencari sumber suara itu. Ketika mereka keluar, suasana taman yang indah sekarang tampak berbeda. Bunga-bunga yang semula indah sekarang terlihat layu dan berwarna gelap.
Saat mereka menjelajahi taman itu, mereka tiba-tiba merasakan suhu udara yang drastis menurun. Dzikrul dan Alisa mulai gemetar, bahkan ketika suara-suara aneh itu semakin kuat. Mereka melihat bayangan-bayangan misterius bergerak di antara pohon-pohon bunga.
Ketika mereka melihat lebih dekat, mereka terkejut melihat wujud bayangan itu: sosok-sosok manusia dengan wajah yang pucat dan mata yang gelap, mengambang di udara tanpa kaki. Semua sosok itu mengarahkan pandangan tajam pada Dzikrul dan Alisa.
Kedua sahabat itu berlari kembali ke dalam villa, berusaha mengunci diri di kamar mereka. Mereka merasa terjebak, suara-suara aneh itu semakin dekat, dan taman yang indah berubah menjadi pemandangan yang menyeramkan.
Malam itu, Dzikrul dan Alisa harus bertahan dari teror yang mereka alami di villa bunga Kota Batu. Mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat tidak wajar di tempat ini, dan mereka berharap bisa selamat dari kisah horor yang mereka hadapi di villa yang seharusnya penuh dengan keindahan bunga-bunga.
Meskipun Dzikrul dan Alisa merasa ketakutan, mereka menyadari bahwa mereka tidak melakukan hal intim apa pun di villa itu. Mereka hanya menginap dan mencari inspirasi untuk pekerjaan mereka sebagai fotografer dan penulis.
Namun, hantu-hantu yang misterius terus mengintai di sekitar villa, dan suasana semakin mencekam. Mereka mulai merasa bahwa ada sesuatu yang sangat salah di tempat itu dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
Mereka mencari-cari informasi tentang sejarah villa tersebut dan menemukan bahwa beberapa tahun yang lalu, ada pasangan yang menginap di villa ini dan melanggar aturan dengan melakukan tindakan yang tidak senonoh. Pasangan itu kemudian menghilang secara misterius, dan tidak ada yang pernah tahu keberadaan mereka setelah itu.
Dzikrul dan Alisa sadar bahwa hantu-hantu itu mungkin adalah roh pasangan tersebut yang marah karena villa ini pernah digunakan untuk hal yang tidak senonoh. Mereka memutuskan untuk mencoba berkomunikasi dengan roh-roh itu untuk menjelaskan bahwa mereka tidak melakukan hal yang sama dan hanya menginap di sini untuk tujuan pekerjaan.
Mereka mencoba melakukan sesi komunikasi dengan roh-roh itu, berbicara dengan lembut dan mengungkapkan niat baik mereka. Lambat laun, suasana mulai mereda, dan hantu-hantu itu tidak lagi mengancam mereka.
Dzikrul dan Alisa memutuskan untuk segera meninggalkan villa itu setelah menghabiskan malam yang mencekam. Mereka menyadari bahwa meskipun mereka bisa mengatasi hantu-hantu itu, villa bunga Kota Batu akan selalu menyimpan kenangan yang mengerikan.
Mereka pergi dengan harapan bahwa roh-roh itu akan menemukan kedamaian mereka sendiri, dan mereka tidak akan pernah lagi mengganggu orang yang menginap di villa itu. Dzikrul dan Alisa meninggalkan kisah horor di belakang mereka, bersyukur bahwa mereka selamat dari pengalaman yang menyeramkan di villa yang seharusnya dipenuhi dengan keindahan bunga.
Dzikrul duduk di tengah-tengah ruangan villa yang penuh dengan keheningan. Lampu redup menyoroti wajahnya yang penuh keraguan. Tiba-tiba, sebuah kehadiran yang tak terlihat terasa mendekat.
Roh: (suara samar-samar) "Kamu datang ke sini, manusia."
Dzikrul: (terkejut, tetapi mencoba tetap tenang) "Siapa kamu? Mengapa kamu dan teman-temanmu mengganggu kami?"
Roh: "Kami adalah roh-roh yang terperangkap di sini, karena perbuatan buruk yang pernah dilakukan di tempat ini."
Dzikrul: "Kami tidak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang-orang sebelumnya. Kami hanya menginap di sini untuk pekerjaan kami. Kami tidak bermaksud mengganggu atau menghina tempat ini."
Roh: (suara cemas) "Kami telah marah karena kenangan buruk yang masih melekat di sini. Namun, kamu berbeda. Kamu tidak seperti mereka."
Dzikrul: "Kami ingin meninggalkan tempat ini dan membiarkanmu beristirahat dalam damai. Apakah ada sesuatu yang bisa kami lakukan untuk membantumu atau untuk memperbaiki kesalahan masa lalu ini?"
Roh: "Kami hanya ingin dikenang sebagai tempat yang indah, bukan tempat yang menakutkan. Kalian berdua harus menjaga kehormatan villa ini."
Dzikrul: "Kami akan melakukannya. Kami akan meninggalkan villa ini dengan rasa hormat. Semoga kamu dan roh-roh lainnya dapat menemukan kedamaian."
Roh: "Terima kasih. Semoga kamu selamat dari malam ini."
Dzikrul merasakan kehadiran roh itu menghilang, dan suasana villa terasa lebih damai. Dia tahu bahwa mereka harus segera pergi, meninggalkan villa ini sebagai tempat yang indah, bukan tempat yang menakutkan.
