Langsung ke konten utama
VIDEO DEWASA UPDATE HARIAN

Manfaat Digenjod

Anal seks sering kali dianggap tabu atau hanya dikaitkan dengan risiko kesehatan. 

Namun, dengan pendekatan yang benar—terutama menggunakan kondom dan pelumas yang cukup—aktivitas ini bisa memiliki sisi positif, khususnya bagi laki-laki. Mari kita bahas secara objektif dan berbasis fakta.

Pertama, dari segi kenikmatan seksual, anal seks bisa memberikan pengalaman yang sangat intens bagi pria penerima (receptive). 

Prostate, kelenjar kecil berbentuk walnut yang terletak di depan rektum, sering disebut sebagai "P-spot" atau "male G-spot". 

Stimulasi langsung pada prostate melalui penetrasi anal dapat menghasilkan orgasme yang berbeda—banyak pria melaporkan sensasi lebih kuat, meluas ke seluruh tubuh, dan kadang disebut lebih intens daripada orgasme penis biasa. 

Beberapa survei dan laporan pribadi menunjukkan bahwa stimulasi ini meningkatkan frekuensi dan kepuasan orgasme. 

Bagi sebagian pria, ini menjadi variasi baru dalam kehidupan intim, membantu mengatasi kebosanan atau mengeksplorasi tubuh lebih dalam.

Kedua, ada potensi manfaat kesehatan terkait prostate. Beberapa sumber medis menyebutkan bahwa stimulasi prostate secara rutin (baik manual maupun melalui seks) dapat meningkatkan aliran darah ke area pelvis, membantu relaksasi otot dasar panggul, dan—dalam kasus tertentu—memberi keringanan sementara pada gejala prostatitis kronis atau ketegangan pelvis. 

Ada juga klaim bahwa ini mendukung fungsi ereksi melalui sirkulasi yang lebih baik, meskipun bukti ilmiahnya masih terbatas dan tidak semua ahli setuju. 

Penting dicatat, ini bukan pengobatan medis resmi; Cleveland Clinic dan banyak urolog menyatakan tidak ada bukti kuat bahwa prostate massage memberikan manfaat medis signifikan untuk kondisi seperti BPH atau disfungsi ereksi.

Keamanan menjadi kunci utama. Anus tidak memproduksi pelumas alami seperti vagina, sehingga tanpa pelumas berbahan dasar air atau silikon yang melimpah, risiko robekan jaringan (fissure), nyeri, atau infeksi sangat tinggi. 

Kondom lateks wajib digunakan untuk mencegah penularan IMS/HIV—risiko IMS justru lebih tinggi pada anal seks dibandingkan vaginal karena lapisan rektum lebih tipis dan rentan. 

Selalu gunakan kondom baru jika berganti aktivitas, hindari pelumas berbahan minyak (bisa merusak kondom), dan komunikasikan dengan pasangan soal kecepatan serta kenyamanan. 

Mulailah perlahan, gunakan jari atau mainan kecil dulu untuk relaksasi sfingter.

Secara keseluruhan, anal seks bukan untuk semua orang, tapi bagi yang tertarik dan melakukannya dengan aman, bisa menambah dimensi kenikmatan seksual serta eksplorasi intim. 

Tidak ada bukti bahwa praktik ini merusak tubuh jangka panjang jika dilakukan hati-hati—bahkan Planned Parenthood menyatakan aman secara fisik selama protokol keamanan diikuti. 

Yang terpenting: persetujuan bersama, komunikasi terbuka, dan prioritas kesehatan.

Jika ada kekhawatiran medis, konsultasikan dokter atau seksolog. Seks yang sehat adalah yang menyenangkan dan aman bagi semua pihak.