Di kamar kos ukuran tiga kali empat itu, empat pria dewasa berdiri melingkar seperti mau ritual pemanggilan otot. Ada Wira si paling disiplin, Bayu yang sok tahu, Fadil yang badannya besar tapi cepat ngos-ngosan, dan Iqbal—kurus, tapi ambisinya segede lemari.
Kipas angin muter setengah nyawa. Bau minyak kayu putih campur keringat jadi parfum khas anak kos produktif. Di lantai, ada matras tipis, dua dumbbell karatan, dan satu botol air galon yang fungsinya ganda: minum dan pemberat darurat.
“Target hari ini dada,” kata Wira sambil buka kaus. Otot dadanya belum kayak patung Yunani, tapi jelas hasil konsistensi. Bayu langsung ikut-ikutan buka kaus sambil bilang, “Chest itu soal sudut, bro. Mind-muscle connection.” Semua mengangguk, walau cuma setengah paham.
Mereka mulai push-up. Hitungan Bayu selalu terlalu cepat, Fadil selalu curang dengan pinggul turun duluan, dan Iqbal gemetar tapi maksa. Tiap repetisi diiringi komentar receh.
“Dada lu naik dikit tuh,” kata Fadil ke Iqbal. “Itu bukan dada, itu tulang rusuk,” balas Iqbal, terengah.
Lanjut dumbbell press. Dumbbell cuma dua, jadi gantian. Yang nunggu giliran sok jadi pelatih, padahal sama-sama amatir. Tapi justru di situ serunya. Nggak ada cermin besar, cuma kaca lemari yang bikin refleksi badan jadi aneh. Tetap aja mereka senyum—karena tiap pompa kecil di dada terasa kayak kemenangan.
Setelah 40 menit, lantai basah, kaus jadi lap. Dada terasa panas, napas masih berat, tapi kepala enteng. Mereka duduk, minum air galon, ketawa tanpa alasan jelas.
“Besok dada pegal,” kata Bayu. “Berarti hidup,” jawab Wira.
Di kamar kos sempit itu, mereka nggak cuma ngejar otot dada. Mereka ngejar versi diri yang lebih kuat—pelan, keringetan, dan bareng-bareng.
