Langsung ke konten utama
    VIDEO DEWASA UPDATE HARIAN

    Gio dan Jeruk Nipis



    Gio baru sadar wajahnya kusam ketika bercermin di kamar kos yang lampunya lebih cocok buat interogasi polisi.

    Pori-pori kelihatan jelas, jerawat nongol satu-dua kayak tamu tak diundang. Di luar, knalpot motor meraung. Di dalam, harga diri Gio sedikit goyah.

    “Bro, muka lo kenapa kayak talenan habis motong bawang?” komentar Roku sambil selonjoran, main HP tanpa dosa.

    “Kurang ajar. Ini namanya kulit pria dewasa yang terpapar realita,” balas Gio. “Polusi, matahari, stres mikirin tanggal tua.”

    Roku bangkit, masuk dapur kos yang isinya cuma rice cooker, gelas retak, dan satu jeruk nipis kesepian di atas meja. “Nih solusi murah. Jeruk nipis.”

    Gio melirik curiga. “Buat soto?”

    “Buat muka lo. Ilmiah, alami, tanpa campuran aneh-aneh. Vitamin C, asam sitrat, antioksidan. Bukan mitos grup WA,” kata Roku dengan nada sok dosen.

    Tanpa banyak diskusi, jeruk nipis diperas. Airnya ditaruh di tutup botol. Gio cuci muka, lalu mengoleskan cairan bening itu ke wajahnya. Lima detik pertama aman. Detik keenam mulai terasa cekit-cekit.

    “Normal,” kata Roku santai. “Itu tandanya sel kulit mati lo lagi diusir secara paksa tapi sopan.”

    “Ini sopan dari mana?” gerutu Gio, tapi dia tahan. Lima menit kemudian, wajahnya dibilas. Sensasinya? Segar. Kayak habis ditegur tapi dengan niat baik.

    Sejak malam itu, Gio rutin pakai jeruk nipis dua sampai tiga kali seminggu. Malam hari doang. Roku melarang keras dipakai siang-siang. “Lo mau mencerahkan wajah, bukan jadi studi kasus fotosensitivitas,” katanya.

    Dua minggu berlalu. Minyak di wajah Gio berkurang. Jerawat yang biasanya betah nongkrong mulai jarang muncul. Kulitnya belum glowing ala iklan, tapi kelihatan lebih waras.

    Suatu pagi, Gio bercermin lagi. Lampu kos tetap kejam, tapi pantulannya lebih bersahabat.

    “Rok, kayaknya ada efeknya,” kata Gio.

    Roku nyengir. “Ya jelas. Asam sitrat bantu ngelupasin sel mati, pori-pori lebih jinak, bakteri jerawat ditekan. Tapi inget, jangan rakus. Kulit itu organ, bukan wajan.”

    Gio mengangguk. Ia paham sekarang. Perawatan itu bukan soal ribet atau mahal, tapi soal konsisten dan tahu batas. Jeruk nipis tetap jeruk nipis—kalau kebanyakan, asam juga jadinya.

    Di meja dapur, satu jeruk nipis baru menunggu giliran. Bukan buat soto. Buat muka yang akhirnya diajak berdamai.