Wira baru sadar ada yang aneh dengan tubuhnya ketika ia bercermin di kamar kos yang sempit, dindingnya penuh poster motivasi murah.
Kaos tanpa lengan yang ia beli diskonan itu memperlihatkan ketiaknya—atau lebih tepatnya, memperlihatkan sesuatu yang tidak ingin ia lihat.
Tidak jelek, tapi janggal. Seperti lekukan yang ragu-ragu menentukan bentuk.
“Bayu,” kata Wira sambil melirik teman sekamarnya yang sedang rebahan sambil scroll ponsel. “Ketiakku aneh nggak, sih?”
Bayu menurunkan ponsel perlahan. Tatapannya serius, seperti ilmuwan menilai fosil.
“Bukan aneh. Itu tanda kau jarang push up dan kebanyakan mie instan.”
Wira mendengus. Mereka sama-sama anak kos usia dua puluh tahun, hidup dari nasi, telur, dan harapan.
Tapi Bayu berbeda. Bahunya tegas, garis tubuhnya rapi. Bahkan ketiaknya terlihat… niat.
“Kok bisa punyamu kayak gitu?” tanya Wira. “Kelihatan proporsional.”
Bayu duduk. “Tubuh itu nggak suka diperlakukan asal. Dia ngikut hukum sebab-akibat, bukan doa instan.”
Sejak hari itu, Wira ikut rutinitas Bayu. Pagi push up di lantai kos yang dinginnya kejam, siang menahan godaan gorengan, malam latihan angkat galon sebagai pengganti dumbbell.
Bayu selalu menekankan satu hal: jangan fokus mengecilkan ketiak, fokus memperkuat tubuh di sekitarnya.
“Lekukan itu efek samping dari keseimbangan,” kata Bayu suatu malam. “Dada, bahu, punggung. Kalau satu malas, yang lain kelihatan berantakan.”
Minggu demi minggu berlalu. Wira mulai merasakan perubahan aneh tapi menyenangkan.
Bahunya lebih terbuka, dadanya tidak lagi jatuh ke depan, dan saat bercermin, ketiaknya tak lagi terlihat seperti lipatan yang tersesat.
Ada garis alami di sana, samar tapi jelas, seperti tubuhnya akhirnya menemukan bahasa sendiri.
Suatu sore, mereka duduk di teras kos. Wira mengenakan kaos lama yang dulu membuatnya ragu.
“Gimana sekarang?” tanya Wira.
Bayu tersenyum tipis. “Itu bukan cuma soal ketiak. Posturmu berubah. Badanmu kelihatan jujur.”
Wira tertawa kecil. Ia sadar, yang berubah bukan hanya bentuk tubuh, tapi cara memandangnya.
Tubuh bukan objek untuk dimaki, tapi sistem hidup yang merespons perlakuan.
Diperlakukan asal, hasilnya asal. Diperlakukan dengan logika dan sabar, hasilnya rapi.
Di usia dua puluh, di kamar kos sempit, Wira belajar satu hal penting: proporsi bukan soal sempurna. Ia soal keseimbangan—dan tubuh selalu tahu kapan ia akhirnya diperhatikan.
